Bila
Hujan turun lagi. lebih deras
dari sebelumnya yang hanya rintik-rintik tak berarti. Seorang gadis berparas
ayu dengan rambut acak-acakan dan penampilan yang tak terurus, melihat dari balik
jendela bertirai hitam.
Dulu hujan menjadi
favoritnya ..
Dulu hujan pulalah
yang mempertemukan dia dan Rudi. Pria tinggi, gagah nan tampan yang jadi pujaan
hatinya. Saat itu langit tengah mengguyur bergalon-galon air ke bumi. Dengan
jaket tipis berwana hijau cerah, ia tutupi kepalanya dari derasnya butiran air.
Terfokus untuk
terhindar dari hujan, ia tak memperhatikan keadaan sekitar, hingga dirinya
bertabrakan dengan pria itu. Sama-sama terpental dan sama-sama meminta maaf
dengan canggung, kemudian mereka tertawa. Menertawakan kekikukan yang terbangun
diantara mereka.
“Rudi.”katanya.
suaranya bak genta angin yang bergemerincing. Mengulurkan tangan kekarnya.
Dengan tersipu malu, gadis tersebut menyambut uluran tangan Rudi, “Bila.”
Dan sejak saat itu
mereka dekat. Sebuah tali kasih tiba-tiba terbentuk. Bagai dua pohon yang
akarnya menyatu. Empat bulan mereka menjalani hubungan sederhana dan
menyenangkan ini. Canda tawa kerap mengiringi langkah kaki mereka. Walau tak
luput hubungan mereka dilanda masalah, mereka tetap menjalani dengan apa
adanya. Bahkan hujan juga sempat menyatukan mereka. Benar-benar menyatu.
Menyatukan tubuh mereka disenja yang dingin. Dengan rela hati Bila menyerahkan
segalanya. Demi Rudi, ia menyerahkan satu-satunya harga diri yang dimiliki
setiap perempuan. Dan mengalun. Mengikuti arus. Terlena dengan kenikmatan semu.
“Aku akan terus
menjagamu. Aku janji.”kata Rudi waktu itu. Dan Bila hanya bisa mengangguk.
Menumpukkan berbagai harapan dan keyakinan pada pria yang ia cintai.
Namun baru sebulan
setelah kejadian itu, Rudi menghilang. Tiada berita. Tiada kabar. Dengan sabar
ia menunggu. Selalu dihitungnya setiap waktu. Bahkan setiap detiknya ia
menghitung. Berharap Rudi menghubunginya dan menanyakan kabar padanya. Rindu
dalam hati Bila semakin membuncah, meluber hingga sudut-sudut terdalam
dihatinya. Apalagi ia mempunyai hadiah manis untuk Rudi.
Namun tampaknya asa
harus pupus.
Keinginannya harus
kandas.
Hanyut terbawa
penderitaan saat sepucuk surat datang. Disurat itu Rudi meminta maaf. Maaf
karena tak dapat menepati janji yang dulu ia buat. Janji yang ternyata hanya
tipuan agar Bila semakin terperdaya. Nyatanya ia lebih memilih mantan
kekasihnya dengan alasan benih cinta yang terkandung dalam rahim perempuan itu.
Didalam surat itu, Rudi juga berkata bahwa suatu saat Bila akan mendapat
seseorang yang lebih sempurna dibanding dirinya.
“Bagaimana mungkin aku
dapat yang lebih sempurna Rud, jika aku telah kau rusak sedemikian rupa. Apa
mereka mau menerimaku jika tahu aku sudah tak utuh lagi ?” gumam Bila.
Berbicara pada ruang kosong. Sebutir mutiara turun melewati pipinya. Kemudian
sebutir lagi, sebutir lagi hingga tangisnya pecah. Dicobanya menekan dada
sendiri yang terasa nyeri. Remuk sudah harapannya. Lebur sudah keinginannya.
Hatinya sekarang berkeping.
Kini hujan tak lagi
jadi favoritnya. Kini ia benci hujan. Ia muak melihat hujan. Namun matanya
enggan beralih dari jendela bertirai hitam itu. Terkadang bau hujan masih dapat
menimbulkan nyeri didadanya yang sampai saat ini masih bertahan.
Dengan tatapan kosong,
diusapnya perut yang kian membuncit itu. Inilah hadian manis yang akan
diberikan pada Rudi. Tapi ternyata berbalik pada dirinya. Berbalik menjadi
hadiah pahit yang harus ia hadapi sendiri. Lima bulan ia menggendong janin pada
perutnya. Menghadapi bisikan mengganggu dan tatapan penuh jijik yang tertuju
padanya. Semua ia hadapi sendiri.
Namun, gunjingan orang kini sudah tak mengganggu
telinganya lagi. karena semua akan segera berakhir. Hujan yang mengawali, maka
hujan yang mengakhiri.
Kaki kuyu yang berdiri ditepian
kursi mulai menggerakkan jemarinya. Bersiap untuk sesuatu yang lain. Dengan sekali gerakan, kursi itu terpelanting ke belakang.
Kini matanya tak lagi melihat
hujan. Malaikat pencabut nyawa, dengan murka dan bengis menutup penglihatannya.
Bila saja ia tak bertemu pria
itu.
Bila saja ia tak mencintainya.
Bila saja ia tak menyerahkan
mahkotanya.
Bila saja ia tak terlalu yakin
dan berharap,
Mungkin semua berakhir lebih baik
….
Dan hujan sebagai saksi diam …
Bahwa sang perempuan hanya
perempuan yang dimiskinkan harga dirinya ..
Namun rohnya masih berharap, bila
saja …….
Read Users' Comments (0)







